PENGANTAR TEORI ARKEOLOGI, GENAP 2017/2018


Assalamualaikum,

terima kasih telah mengikuti perkuliahan, baik di kelas maupun E-Learning.

Berikut adalah nilai tugas dan MID bagi mahasiswa yang memprogram mata kuliah Pengantar Teori Arkeologi di semester berjalan.

Bagi mahasiswa(i) yang belum mengumpulkan tugas, agar segera mengumpulkan. Batas waktu pengumpulan tugas adalah, Senin 30 April 2018. Tugas dikumpulkan ke ketua tingkat, dan ketua tingkat selanjutnya mengumpulkan ke ibu.

Adapun untuk pertemuan selanjutnya, silahkan untuk menghubungi dosen pengampu selanjutnya.

Sekian dan Terima Kasih

Iklan

ARKEOLOGI KOLONIAL GENAP 2017/2018


Assalamualaikum,

terima kasih telah mengikuti perkuliahan, baik di kelas maupun E-Learning.

Berikut adalah nilai tugas dan MID bagi mahasiswa yang memprogram mata kuliah Arkeologi Kolonial di semester berjalan.

Bagi mahasiswa(i) yang belum mengumpulkan tugas, agar segera mengumpulkan. Batas waktu pengumpulan tugas adalah, Senin 30 April 2018. Tugas dikumpulkan ke ketua tingkat, dan ketua tingkat selanjutnya mengumpulkan ke ibu.

Adapun untuk pertemuan selanjutnya, silahkan untuk menghubungi dosen pengampu selanjutnya.

 

Sekian dan Terima Kasih

 

Biografi James P. Delgado


James P. Delgado merupakan seorang arkeolog maritim, penjelajah, dan penulis. Beliau lahir pada tanggal 11 januari 1958 di San Francisco, California. Delgado terkenal sebagai seorang arkeolog kemaritiman yang bekerja di Maryland, Amerika Serikat. Dia memiliki dua kewarganegaraan yaitu AS atau Kanada. James P. Delgado, PhD, FRGS, RPA, telah memimpin atau berpartisipasi dalam ekspedisi kapal karam di seluruh dunia. Dia telah menghabiskan eksplorasi bawah laut dan telah menemukan banyak situs arkeologi baru di seluruh dunia.

Continue reading “Biografi James P. Delgado”

Formulir Daftar Konsultan Oriflame


 

 

Oriflame Face Of The Year 2016


 

Video ini dibuat sebagai salah satu syarat lomba. Pemilihan Oriflame Face of The Year merupakan salah satu program oriflame kepada konsultannya. Setiap yang terpilih akan menjadi model pada katalog oriflam untuk periode terpilih. Selain itu, yang terpilih juga mendapatkan berbagai hadiah menarik dari oriflame.

Video saya ini ketika mengikuti program Oriflame Face Of The Year pada tahun 2016, walau tidak terpilih menjadi pemenang namun banyak memberikan pengalaman.

Mari berbisnis dan berkarir menjadi sukses bersama Oriflame. ^^

BANGUNAN-BANGUNAN KOLONIAL DI MAKASSAR, SULAWESI SELATAN


BAB I

LATAR BELAKANG

 Sulawesi Selatan merupakan daerah yang memiliki banyak tinggalan-tinggalan arkeologi. Tinggalan-tinggalan arkeologi tersebut tersebar di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Tinggalan-tinggalan tersebut baik berupa tinggalan-tinggalan prasejarah, kolonial, maupun islam. Tinggalan-tinggalan arkeologi periode kolonial, terutama ditemukan di kota Makassar yang merupakan ibukota dari propinsi Sulawesi Selatan.

Kota Makassar merupakan Kota Kolonial yang paling banyak mendapat pengaruh dari Belanda (Eropa). Perkembangan tata ruang kotanya dipengaruhi oleh nuansa Belanda. Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia (masa penjajahan), makassar merupakan salah satu kota bentukan Belanda yang juga merupakan sirkulasi perdagangan dan pertahanan Belanda. Di tepi Pantai dibangun benteng (ciri khas daerah bekas jajahan belanda) penamaan lokasi dan jalan-jalan tertentu/penting memakai bahasa belanda, dan permukiman di pisahkan menurut Etnis dan strata sosial.

Dalam catatan Sejarah Nasional Indonesia, kata “Kolonial” merupakan suatu dinamika  yang mempunyai kurun waktu yang sangat panjang. Apabila kita mengacu pada pengertian “kolonial” yang kata dasarnya adalah “koloni” maka pengertian itu merujuk  pada makna kelompok. Sedangkan pengertian “kolonial” merupakan kata benda yang maknanya terarah pada pengertian orang/kelompok/bangsa yang berkelompok. Sedangkan “kolonial” yang diberi akhiran “isme” pengertiannya menjadi suatu sifat/keinginan suatu kelompok masyarakat atau negara untuk menguasai Negara atau kelompok lainnya.

Berdasarkan pengertian itu, maka dalam bentang sejarah kita dikenal kolonialisme Inggris, Kolonial Belanda dan Jepang. Peninggalan-peninggalan kolonial di Makassar, sampai sekarang masih dapat dilihat material peninggalannya baik berupa bangunan perumahan, perkantoran, pertokoan bahkan sampai sekarang masih ditemukan tinggalan-tinggalan berupa sarana pendidikan dan tempat ibadah (SPSP Sulselra, 2000).

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis mencoba untuk membuat laporan yang berjudul “Bangunan-Bangunan Kolonial di Makassar, Sulawesi Selatan”.  Penulis berharap dengan adanya laporan yang penulis buat, dapat memberikan pemahaman kepada setiap orang mengenai bangunan-bangunan kolonial yang ada di Makassar. Bagaimana bentuk-bentuk bangunan kolonial yang ada di Makassar, dan bangunan-bangunan kolonial apa saja yang terdapat di Makassar. Continue reading “BANGUNAN-BANGUNAN KOLONIAL DI MAKASSAR, SULAWESI SELATAN”

TEORI-TEORI DALAM PEMBABAKAN ZAMAN PRASEJARAH


Teori-Teori Dalam Pembabakan Zaman Prasejarah

1. Zaman Batu Tua (Paleolithikum)/ Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Teori yang cocok untuk masa ini adalah teori: Robert Bettinger yang menyatakan bahwa eksistensi perburu-pengumpul dilihat sangat negatif, dan menurutnya, yaitu perburu-pengumpul dipandang menduduki anak tangga paling bawah dari tangga yang berkenaan dengan evolusi.

2. Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)/ Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Teori yang cocok untuk masa ini adalah teori: Richard Lee yang mengemukakan bahwa air merupakan sumber satu-satunya hal yang sangat penting dalam menentukan atau memutuskan pola-pola pemukiman dan demografi masyarakat perburu-pengumpul. Continue reading “TEORI-TEORI DALAM PEMBABAKAN ZAMAN PRASEJARAH”

HASIL PENELITIAN YANG BERUPA PARADIGMA PROSESUAL


Potensi dan Prospek Kompleks

Situs Arkeologi Batujaya

 A. Apresiasi Hasil Penelitian

Laporan hasil penelitian yang diajukan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya ini, yang dilaksanakan oleh suatu tim ahli arkeologi yang dipimpin oleh Drs. Hasan Djafar, telah menyajikan hasil penelitian mutahir (hingga akhir 1999) serta merangkumkan pula hasil-hasil penelitian terdahulu di kawasan yang sama. Dalam laporan itu dipaparkan sejumlah fakta arkeologis yang telah dimulculkan melalui sejumlah ekskavasi pada 12 di antara 24 lokasi yang diketahui mengandung peninggalan kepurbakalaan. Dalam hubungan dengan kebutuhan untuk menamakan lokasi-lokasi ini perlu kiranya dibuat pembedaan berdasarkan dimensi dan tatarannya. Kalau istilah “situs” sudah digunakan untuk keseluruhan kompleks unur-unur (bukit-bukit kecil) yang terdapat diseluruh daerah (kecamatan/desa) Batujaya, yang terdiri dari beberapa lokasi di kampung Telagajaya dan kampung Segaran, maka mestinya istilah yang sama tidak dapat digunakan untuk masing-masing unur atau lokasi yang dinamai Segaran (SEG) I-IX dan Telagajaya (TLJ) I-VIII. Atau, kalau masing-masing lokasi temuan itu dinamakan situs, seperti yang digunakan juga dalam laporan (situs Segaran I, situs Telagajaya I, dan seterusnya), maka kawasan temuan yang lebih luas di desa Batujaya itu dapat disebut “kompleks situs” atau “agrerat situs”. Continue reading “HASIL PENELITIAN YANG BERUPA PARADIGMA PROSESUAL”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: